Di awal tahun kemarin, salah seorang teman bapak saya meminta untuk ditata interior rumahnya. Hanya menata tanpa banyak merubah pola peruangan, furniture, atau merenovasinya. Hanya sedikit manambah kekurangan dalam ruang yang bertujuan mendapatkan sebuah kenyamanan bagi penghuninya. Rumah di Kedungwuni, Pekalongan ini terletak dalam perumahan. Saat saya merasakan sensasi ruang di dalamnya, memang terasa sumpek dan ruwet, banyak barang-barang besar yang tidak tertata serta penghawaan dalam ruang yang sangat kurang. Bagain belakang rumah yang tertutup atapnya semakin menambah kegerahan dalam rumah itu.
Tahap pertama, saya mulai mendata dan medokumentasikan eksisting ruangan serta perabotnya, menganalisa permasalahan yang ada, dan mulai memikirkan ide penyelesaian masalahnya.Sangat sederhana, saya hanya merubah dan menggeser peruangan, serta membuka bagian belakang rumah untuk mendapatkan penghawaan dan pencahayaan alami. Membuka interaksi antara ruang keluarga dengan taman - r.tidur utama – r.tidur anak, serta memberikan batas secara visual terhadap r.tamu.
Proses desain yang (harus cepat) dengan beberapa kali konsultasi dengan klien menghasilkan produk desain yang belum selesai secara menyeluruh. Dan kegiatan proses mendesainpun sewaktu-waktu akan berlanjut lagi untuk mendapatkan hasil dan pengerjaan yang maksimal, tentunya jika dikaitkan dengan dibutuhkannya pengeluaran pada waktu pelaksanaannya.
Bulan september tahun 2007 saya berkesempatan untuk belajar tentang desain dengan Mr. Budi Pradono, Head of Budi Pradono Architects, salah seorang arsitek papan atas yang negeri ini miliki. Melalui Workshop Furniscape (furniture+landscape) tersebut, saya dan teman-teman dari beberapa universitas lain diajarkan tentang salah satu cara mendesain, yaitu design by research, mendesain produk arsitektur dengan pendekatan melalui penelitian. Penelitian disini adalah mengumpulkan data-data yang terdapat di lokasi perencanaan. Data tersebut berasal dari seluruh aspek yang terdapat di lokasi baik fisik maupun nonfisik, seperti jenis-jenis tumbuhan yang terdapat di lokasi, aktifitas orang-orang, kendaraan, spot fasum (fasilitas umum), jenis dan arah angin, dan sebagainya. Data-data yang terkumpul tersebut dengan sedemikian rupa diolah sehingga terbentuk sebuah desain arsitektur yang tanggap terhadap lokasi perencanaan, tanggap terhadap alam, sustainability, dan terhadap aktifitas di lokasi. Sungguh proses yang sangat teratur dan membutuhkan waktu yang tidak sedikit, team desain yang bekerja untuk meriset juga banyak, sehingga kerjasama temwork sangatlah dominan disini. Waktu itu, saya satu team dengan Adias (Unpar), Caroline (Unpar), Yansen (ITS), dan Yohanes (Unpar). Sungguh sangat menyenangkan bisa bekerjasama dengan mereka.
Singkat kata, selama hampir seminggu kita diberi seminar-seminar, perkuliahan, sharing, praktek kerja oleh pakar-pakar arsitektur, seni, desain produk, interior, penulis, dll. Sebut saja Achmad Tardiyana dan Dewi Lestari ikut menjadi pembicara dan juri workshop. Kelompok saya mendapatkan lokasi di Jalan Merdeka untuk merencanakan sebuah produk furniture dan landscape masa depan melalui metode research tersebut. Mulailah saya dan teman-teman berdiskusi, mengumpulkan data, mencoba merangkai dengan maket sederhana, menterjemahkan data-data yang tersedia untuk ditransformasikan menjadi sebuah gagasan ide yang selanjutnya diselaraskan menjadi sebuah desain arsitektural. Butuh beberapa kali revisi dan presentasi ke Mr. Budi sebelum akhirnya presentasi final di depan para juri.
Siang-malam-pagi dihabiskan dengan mengotak-atik maket studi, menganalisa data, mendokumentasikannya dengan software desain. Dan ternyata usaha dan semangat tersebut tidak sia-sia, kelompok saya mendapatkan dua penghargaan sekaligus, yaitu : The Best Desain III dan The Best Research dalam ajang tersebut, sungguh senangnya. Mendapatkan pembelajaran dari senior arsitek, pengalaman, bekerja dalam sebuah tim, serta mendapatkan penghargaan atas hasil usaha team.
Sayembara Desain Puskesmas Populer Medan Metropolitan 2007, begitu judul saat informasi lomba ini keluar di bulan juni 2007. Karena merupakan jenis lomba tanpa banyak “modal” alias gratis biaya pendaftaran, apa salahnya ikutan, pikir saya waktu itu. Seperti biasa, langkah pertama yang saya lakukan adalah mencari semua referensi yang berhubungan dengan perencanaan puskesmas. Hal tersebut dikarenakan lokasi site yang berada di kota Medan, Sumatera Utara. Pihak panitia menginginkan desain yang terpilih sebagai contoh untuk mempopulerkan kepada masyarakat tentang arti pentingnya keberadaan sebuah pusat kesehatan masyarakat. Lokasi pembangunan pun terserah peserta lomba. Kriteria yang diinginkan panitia adalah perencanaan sebuah puskesmas rawat inap dengan luasan ± 800 m2, luas lantai maksimal 2 lantai, fungsi dan peruangan sesuai dengan standart DEPKES RI 2006, memenuhi estetika dalam berarsitektur, serta pemenuhan terhadap filosofi tentang puskesmas.
Setelah dirasa mendapatkan data-data yang cukup, saya mulai mengolah data yang saya dapatkan. Karena merupakan perancangan puskesmas rawat inap, yang merupakan “Pusat Rujukan Antara” bagi penderita gawat darurat sebelum dibawa ke Rumah Sakit, maka pelayanan yang diberikan meliputi Kuratif (pengobatan), Preventif (Pencegahan), Promotif (Peningkatan Kesehatan), Rehabilitatif (Pemulihan Kesehatan). Lalu saya mempelajari struktur organisasi sebuah puskesmas, unit-unit yang harus ada, serta penempatan organisasi ruangnya. Pembagian ruang antara kegiatan utama, kegiatan tambahan, servis, dan penunjang juga dipilah-pilah. Menentukan konsep desain menjadi tujuan awal yang harus dicapai, ada beberapa konsep utama yang saya suguhkan, antara lain memasukkan unsur kenyamanan, unsur karakter dan identitas, aksesibilitas yang mudah, sehat dan higienis, serta image (citra) bangunan resmi, karena si empunya Pemerintah setempat. Setelah mempelajari syarat lokasi perencanaan dan data tentang semua kecamatan di Medan Metropolitan, saya mengambil lokasi perencanaan di Medan Belawan, yang mempunyai Luas 26,25 km2, jumlah penduduk 93.356 jiwa, jumlah RS yang belum ada, dan hanya mempunyai 1 unit Puskesmas. Hal tersebut yang menjadi pertimbangan saya dalam memilih lokasi perencanaan.
Unsur identitas di dapat dari material expose batu bata dan tinggi bangunan yang disokong bentuk atap tinggi (limasan) dengan bagian dalam yang berlubang – sebagai penanda identitas dari udara. Kesan resmi terwujud dalam bentuk massa bangunan yang simetris-kotak, yang juga merupakan struktur tahan gempa dan sebagai optimalisasi peruangan. Hal tersebut juga terwujud dalam grid struktur yang diikuti oleh pola peruangannya. Grid tersebut menerus sehingga di bagian fasade terbentuk sirip-sirip yang berfungsi juga sebagai shading, tempat penunjang bangunan (AC, dsb).
Kenyamanan peruangan didapat dari penzoningan peruangan secara horisontal maupun vertikal yang juga mengikuti grid struktur. Unsur aksesibilitas juga dimasukkan baik di bagian dalam maupun luar ruangan. Penzoningan dengan penempatan taman baik di dalam maupun diluar ruangan memberikan kesan sehat dan higienis yang ditunjang dengan pemilihan warna putih sebagai simbol dan aksen ke-higienis-an. Orientasi bangunan yang (kalau bisa) menghadap timur juga menjadi salah satu unsur desain yang saya pertimbangkan.
Setelah melalui beberapa seleksi yang akhirnya saya masuk menjadi lima besar, saya mempresentasikan karya tersebut di depan pemerintahan Kota Medan Metropolitan. Ada beberapa teman dari universitas lain yang juga masuk lima besar. Setelah presentasi yang melelahkan dan memakan waktu sampe seharian, dengan keterbatasan dan kesungguhan, akhirnya juri menetapkan saya sebagai juara III sayembara tersebut.
Jumat kemarin, di penghujung bulan juli 2009, untuk kesekian kalinya salah satu gadget penghubung sosial yang saya miliki terjatuh lagi. Sudah keempat kalinya communicator yang saya miliki ini jatuh, dan jumat kemarinlah yang paling parah. Disamping beberapa bagian pecah permanen, kabel penghubung antara keypad dalam dan layar (depan dan dalam) terputus. Alhasil saya tidak bisa menghidupkan lagi hp tersebut. Banyak nomor penting dan data-data yang terdapat di dalamnya yang belum sempat saya backup.
Gelisah...sedih...bingung...serasa seperti ada sesuatu yang hilang dan kurang lengkap,,,sebegitu pentingkah handphone saat sekarang ini??? Entahlah,,tapi saya sendiri merasakan ada yang hilang bila tidak ada gadget tersebut di dekat saya.
Sempat saya merasa putus asa, tapi rasa penasaran membuat saya ingin tau apa yang menjadi masalah matinya layar hp saya. Bersama Mr. Ricky (Ucok Sarucok) dari The Gunner Cell saya meminjam peralatan hp dan membongkarnya...membedahnya...mengadul-adul isi dalamnya. Banyak sekali komponen elektronik kecil yang menempel. Transistor, dioda, Integrated Circuit (IC), resistor, yang semuanya kecil dan rapi dipatri ke PCB utama. Sungguh rapi sehingga bisa dipastikan sebagain besar dibuat dengan alat seperti robot. Jarak yang sempit – sepersekian di bawah 1 mm – memastikan analisa saya. Berbeda dengan radio buatan saya saat pelajaran elektronika di bangku SMP dulu yang begitu sederhana. Dengan hati-hati saya membukanya, dan akhirnya ditemukanlah sumber masalahnya. Rangkaian kabel yang menghubungkankeypad dan layar memang terlepas dan segera pula saya dan Mr. Ricky memasangnya kembali.
Alhamdulillah...communicator kebanggaan hanya mati suri, terlelap sebentar. Setelah merestart ulang dari awal, akhirnya hiduplah kembali hp saya. Gembiranya saya....asyiiikk.. Sebagai penanda kejadian tersebut, saya lalu mengabadikannya dengan kamera digital dan membuatkan sebuah monumen – my n o k i amy c o m m u n i c a t o r – untuk mengingatkan tentang kejadian tersebut sehingga saya akan lebih hati-hati dan menjaganya di kemudian hari.
Monumen tersebut adalah public space, sebuah digital park yang di dalamnya terdapat digital screen menampilkan iklan-iklan nokia yang ada di seluruh dunia. Di dalam lorong monumen juga terdapat locker yang berisi mode dan desain nokia yang ada di setiap negara. Terkoneksi langsung dengan dunia maya yang menghubungkan pengguna di lokasi dengan seluruh orang pemakai nokia di dunia. Translation bahasa secara digital memudahkan pengguna untuk saling berhubungan di dunia maya. Sungguh seperti lorong waktu yang menjadikan diri kita seolah berhadapan dengan orang yang kita ajak bicara. My communicator, memang menghubungkan antar individu, kelompok, komunitas yang berbeda suku, agama, ras, bangsa.
Dan akhirnya....andaikata monumen tersebut berdiri...tidak ada yang tidak mungkin yang bisa terjadi sekarang ini...Kalau perlu, saya anjurkan berandai-andailah, bermimpilah setinggi mungkin, karena itu akan menjadi salah satu alasan kita untuk tetap bersemangat, selalu berusaha mengejar cita-cita yang kita impikan..